Berawal dari sebuah chat di grup yang sudah lama sepi. Hari itu aku pergi ke sebuah mall dengan tujuan untuk bertemu seseorang, tentu dengan alasan dibalik chat tersebut. Aku menunggu di sebuah kedai kafe di dalam mall itu. Sejujurnya aku tidak biasa duduk di tempat seperti ini. Ada rasa canggung mengelilingi tubuhku saat itu. Aku memang menunggu sendirian, namun di tempat asing dan dalam keadaan menunggu seseorang, agak menyesakkan bagiku. Meski begitu, desain interor tempat ini mudah membuatku nyaman, "apakah mereka menggunakan warna-warna psikologis?", pikirku. Namun dibandingkan dengan kedai kafe lainnya, kafe ini masih terlihat lebih unik. Ia tidak menggunakan warna-warna lembut dan menenangkan, namun menggunakan warna-warna terang seperti berada di dunia fantasi. Mereka lebih mengkonsepkan warna-warna yang lebih disukai anak-anak. Hanya dengan melihat sekeliling saja aku merasa beberapa saat kemudian unicorn dari dunia fantasi akan datang beterbangan mengelilingi kedai ini. Sepengetahuanku, kedai kafe ini memang tidak hanya menyediakan suguhan kopi yang biasa digemari orang dewasa, tetapi juga menyediakan milkshake atau beberapa minuman dan makanan manis lainnya.
Sesaat aku mengeluarkan smartphone untuk memotret beberapa foto interior kafe ini, seorang pelayan kafe menghampiri diriku. Ia menawari sebuah produk tumbler yang mereka keluarkan berdasarkan interior kafe ini. Lebih dari sekedar menawarkan produk, ia juga menceritakan berbagai hal mengenai kafe tersebut. Namun setelah mendengar harga tumbler yang cukup mahal, aku langsung menolaknya dengan sopan. Pelayan itu sungguh menghabiskan waktuku menunggu di kafe ini. Ia seakan sengaja membuatku tidak bosan menunggu sendirian di kafe itu. Sesaat setelahnya, aku melihat jam yang sudah mendekati jam makan siang, aku pergi beranjak keluar dari kafe itu dan berencana menuju foodcourt.
Sesampainya di foodcourt, aku merasa lega karena hari ini tempat duduk belum terlalu penuh. Aku pun masih dapat memilih tempat yang nyaman sekaligus tempat yang dapat membuatku melihat keseluruhan area foodcourt dengan baik. Aku duduk di sebuah tempat duduk yang berada jauh dari pintu masuk, akan tetapi pintu masuk berada di satu garis lurus dengan pandanganku. Dengan alasan agar dapat melihat siapa saja yang datang, aku sambil berharap menemukan sosok yang aku tunggu. Sambil menunggu, aku mulai mencari makanan di tiap-tiap restoran makanan dengan hanya melihat menu dari jauh. Sambil menderetkan mataku pada setiap menu makanan, tubuhku seolah membeku sesaat setelah melihat sosok yang sudah lama sekali aku rindukan. Aku melihat sosok dirinya berjalan melewati tempatku duduk. Terlihat tubuhnya yang kurus itu sedang mendongak ke atas sebuah restoran, ia juga sedang menyibukkan mata melihat menu restoran tersebut.
Dalam sekejap aku dibuatnya membeku tidak berkutik. Mataku seketika hanya terfokuskan melihat sosoknya, masih tidak percaya ia ada dihadapanku. Sambil mengikuti pergerakannya, ia berjalan menuju tempat duduk agak jauh dari tempatku. Ia duduk di tempat dengan meja panjang yang membuatnya makin terlihat sepi dengan dirinya yang hanya duduk sendirian. Posisi tempatnya duduknya sebenarnya juga termasuk tempat yang dapat melihat seluruh area foodcourt dengan baik, bedanya ia berada di ujung sisi sebelah timur foodcourt.
Sejujurnya, ia memang sosok seseorang yang memang aku tunggu. Aku juga membaca chatnya yang ia kirimkan di grup chat yang berisikan teman-teman lama yang memang sudah lama tidak bertemu. Sebuah chat yang tidak terlalu penting namun aku langsung dapat mengetahui dirinya, posisinya, kondisinya bahkan perasaannya. Sejak terakhir bertemu, ia tidak pernah mengirim chat apapun, ia juga hampir tidak memiliki akun media sosial, oleh karena itu aku tidak mengetahui apapun tentang keadaan dirinya sampai datanglah hari ini. Chat dari dirinya yang memang tidak terlalu penting itu sebenarnya sangat penting bagiku sehingga aku dapat berharap untuk bertemu dengannya sekali lagi. Hari ini pun, bukan berarti aku memiliki janji bertemu dengan dirinya, namun aku menyebut hal seperti ini dengan sebutan "takdir".
Hari itu, saat aku sudah mulai tenang, aku memutuskan untuk memerhatikannya saja dari jauh tanpa menghampirinya. Akan tetapi setelah aku menyelesaikan makan siangku, aku mulai merasakan ada sesuatu yang tidak beres dengan dirinya. Warna wajahnya seketika berubah, aura tubuhnya juga berubah. Aku tidak tahan melihatnya berubah murung seperti itu, aku memutuskan untuk menghampirinya. Dengan mengumpulkan segenap keberanian dan perasaanku, aku berjalan menuju tempat ia duduk.
"Halo, apa kabar?", sapaku. Namun aku tidak mendapatkan jawaban. Aku menunggu beberapa detik.
"Apa kamu baik-baik saja?", tanyaku lagi. Kini ia hanya menoleh, lalu kembali memperhatikan smartphonenya yang tidak menyala yang ia letakkan di atas meja. Ia tidak begitu terkejut melihat diriku. Aku agak sakit hati, tapi aku rasa memang sesuatu sedang terjadi pada dirinya. Aku menyembunyikan semua perasaanku dengan kuat agar tidak meledak di tempat. Aku ingin menangis, namun tetap dapat kutahan sekuat tenaga.
Aku mulai menundukkan tubuhku dan sedikit mendekatkan wajahku dengan dirinya, aku memberanikan diri lagi untuk bertanya dengan sedikit berbisik, "Ada apa? Kamu bisa ceritakan padaku."
Setelah beberapa detik menunggu jawaban, ia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Aku melihat sedikit air mata mengalir hingga ke dagunya. Hatiku hancur, aku langsung dapat merasakan kesedihan yang ia alami.
"Kalau memang tidak mau cerita, tidak apa-apa aku tidak memaksakannya."
Nampaknya ia masih tidak ingin berbicara, namun ia sedikit bergeser, mungkin agar aku dapat duduk di sebelahnya. Aku kemudian duduk di sebelahnya tanpa mengeluarkan sepatah dua patah kata. Aku sama sekali tidak merasa canggung. Aku juga tidak sedang berusaha mencari topik pembicaraan. Diam memang pilihan terbaik saat ini. Mungkin ia hanya ingin ditemani, pikirku. Sambil menunggu keadaan tenang, aku hanya dapat melihat-lihat sekeliling foodcourt. Untunglah sepertinya tidak ada seorangpun yang sadar kalau seseorang yang duduk disebelahku sedang menangis.
Beberapa menit berlalu, dan aku menyadari tubuh milik seseorang disebelahku ini mulai sedikit mendekatkan dirinya denganku. Meskipun ia tidak menangis dengan terisak, aku sadar kalau dia masih menangis dan sedang menahannya sekuat tenaga untuk menghentikannya. Dengan keadaan lemah seperti itu, satu hal yang terpikirkan olehku adalah memeluknya dan membiarkannya menangis dipelukanku. Namun sepertinya hal itu sangat tidak mungkin aku lakukan, aku tidak memiliki keberanian sebesar itu. Lagipula kami hanyalah teman lama yang sudah tidak bertemu, tidak lebih.
Sambil menahan tangisannya, ia mulai membuka mulutnya untuk berbicara. Ia mulai langsung bercerita apa yang terjadi dan apa yang telah membuatnya menangis seperti itu. Sesuatu telah terjadi di tempat kerjanya. Aku tidak begitu mengerti mengenai pekerjaannya, tetapi aku paham perasaannya.
Setelah mulai tenang, aku mengikutinya kembali ke kantor tempat kerjanya. Disana aku melihat kerisuhan dengan mata kepalaku sendiri. Ia membeku tidak dapat melakukan apapun, aku pun hanya bisa terdiam melihat keadaannya. Orang-orang berjas hitam berlalu lalang melewati diriku, ada juga orang-orang yang dengan tergesa-gesa membawa box-box kardus berlari kecil keluar gedung dan meletakkannya di truk-truk di luar gedung. Aku sungguh tidak paham, namun aku juga melihat orang-orang berkemeja dan mengalungkan card ID mereka berada di luar gedung. Mereka nampaknya berdemo namun tidak begitu terlalu dipedulikan oleh orang-orang di dalam gedung. Tidak lama setelah aku melihat sekumpulan orang-orang yang berdemo itu, temanku yang tadinya membeku disebelahku sudah berlari kecil menuju kumpulan orang-orang berdemo tadi. Mereka tidak begitu banyak bercakap, namun terlihat jelas warna wajah kumpulan orang tadi berubah menjadi sedikit lebih lega setelah temanku menghampiri mereka.
Aku yang ikut dengannya masih bingung dengan apa yang terjadi, aku hanya bisa membuka kupingku lebar-lebar mendengarkan sedikit percakapan mereka. Dari pembicaraan yang kudengar, mereka sendiri memang hanya bisa pasrah, mereka tidak dapat membalikkan keadaan, sesuatu terjadi dengan sekejap. Beberapa dari mereka memutuskan untuk pulang. Aku dan temanku yang masih tinggal di sana sampai keadaan benar-benar tenang hanya diam berdiri diluar gedung. Aku tahu, meski matanya memerhatikan keadaan gedung kantornya, pikirannya sedang tidak berada disana. Aku hanya dapat menemaninya dan menggenggam tangannya yang dingin itu.
Selesai.
5 September 2019. 09.55 AM.