Hidupku kini terasa jauh lebih berat. Antara sebelum hingga setelah lebaran, hal ini pasti terjadi. Setidaknya seseorang harus tahu meskipun tidak mengerti. Aku mungkin memang dilahirkan sebagai wanita. Namun tanggungjawabku rasanya jauh melebihi pria biasa manapun. Dikatakan tanggungjawab sepertinya memang terlalu berlebihan. Tetapi aku memiliki perasaan awareness (kesadaran) yang cukup tinggi untuk membuatku merasa ikut bertanggungjawab. Aku terlahir sebagai anak pertama yang memiliki orang tua yang sangat peduli dengan lingkungan sekitarnya, terutama sanak saudaranya sendiri. Selain itu, aku dilahirkan dengan darah kebangsawanan, keturunan ke-6 dari Hamengku Buwuna VI Kraton Yogyakarta Hadiningrat. Darah ini diturunkan langsung oleh Ayah kandungku sendiri.
Singkat cerita, sejujurnya sulit rasanya hidup dan tumbuh di dalam keluarga seperti ini. Semuanya tidak terasa mudah bagiku, terutama bagiku yang menuruni sifat pendiam dan sulit berbicara dengan orang lain yang berasal dari sifat Ibuku. Ketika aku masih kanak-kanak, awalnya tidak begitu berat. Namun begitu aku mulai beranjak dewasa dan memasuki kehidupan sekolah yang normal, semuanya begitu terasa berat. Hidupku begitu setengah-setengah, pikirku. Maksudnya setengah-setengah adalah ketika Ayahku sangat menjunjung tinggi nilai kasta yang berlaku di masyarakat, aku harus bisa mengerti dan mengimbanginya. Setengah aku jalani hidup di keluarga yang penuh kedisiplinan sopan-santun dan setengahnya lagi aku jalani dengan hidup di kehidupan luas yang secara tidak langsung mengajarkanku kebebasan memiliki pendapat. Ayahku mendidikku dirumah dengan sikap disiplin sejak kecil, aku tumbuh menjadi anak yang terlalu serius menanggapi apapun. Ayahku mengajarkan bagaimana bersikap layaknya keturunan bangsawan yang sebenarnya, tidak boleh begini dan tidak boleh begitu. Ayahku secara tidak langsung juga menyuruhku untuk meneruskan keluarga dalam hal apapun. Hal itu beliau sampaikan saat usiaku masih dini untuk mengetahui semua tanggungjawab itu. Tidak jarang aku menolak mentah-mentah karena memang belum mengerti apapun, tidak jarang aku bertengkar mulut dengan Ayahku dan menangis karenanya. Semakin dewasa ini, pikiranku yang terbuka oleh dunia luar tidak bisa aku gunakan di dalam keluargaku yang menggenggam teguh peraturan tidak tertulis keluarga, seperti tata krama bersikap, sopan-santun, tata krama makan, dan lain-lainnya. Bahkan teori-teori 'keilmuan' dunia pun ditolak mentah-mentah, misalnya seperti gotong-royong masyarakat Jawa, feminisme Eropa, atau teori yang menyebutkan bahwa siapa yang lebih kuat akan memenangkan peperangan, serta teori-teori lainnya.
Ah sudahlah, aku muak. Mungkin akan aku teruskan lain waktu.
16 June 2017 5.42 PM [Latepost]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar