Kamis, 05 September 2019

Kita bertemu lagi.

Berawal dari sebuah chat di grup yang sudah lama sepi. Hari itu aku pergi ke sebuah mall dengan tujuan untuk bertemu seseorang, tentu dengan alasan dibalik chat tersebut. Aku menunggu di sebuah kedai kafe di dalam mall itu. Sejujurnya aku tidak biasa duduk di tempat seperti ini. Ada rasa canggung mengelilingi tubuhku saat itu. Aku memang menunggu sendirian, namun di tempat asing dan dalam keadaan menunggu seseorang, agak menyesakkan bagiku. Meski begitu, desain interor tempat ini mudah membuatku nyaman, "apakah mereka menggunakan warna-warna psikologis?", pikirku. Namun dibandingkan dengan kedai kafe lainnya, kafe ini masih terlihat lebih unik. Ia tidak menggunakan warna-warna lembut dan menenangkan, namun menggunakan warna-warna terang seperti berada di dunia fantasi. Mereka lebih mengkonsepkan warna-warna yang lebih disukai anak-anak. Hanya dengan melihat sekeliling saja aku merasa beberapa saat kemudian unicorn dari dunia fantasi akan datang beterbangan mengelilingi kedai ini. Sepengetahuanku, kedai kafe ini memang tidak hanya menyediakan suguhan kopi yang biasa digemari orang dewasa, tetapi juga menyediakan milkshake atau beberapa minuman dan makanan manis lainnya.

Sesaat aku mengeluarkan smartphone untuk memotret beberapa foto interior kafe ini, seorang pelayan kafe menghampiri diriku. Ia menawari sebuah produk tumbler yang mereka keluarkan berdasarkan interior kafe ini. Lebih dari sekedar menawarkan produk, ia juga menceritakan berbagai hal mengenai kafe tersebut. Namun setelah mendengar harga tumbler yang cukup mahal, aku langsung menolaknya dengan sopan. Pelayan itu sungguh menghabiskan waktuku menunggu di kafe ini. Ia seakan sengaja membuatku tidak bosan menunggu sendirian di kafe itu. Sesaat setelahnya, aku melihat jam yang sudah mendekati jam makan siang, aku pergi beranjak keluar dari kafe itu dan berencana menuju foodcourt.

Sesampainya di foodcourt, aku merasa lega karena hari ini tempat duduk belum terlalu penuh. Aku pun masih dapat memilih tempat yang nyaman sekaligus tempat yang dapat membuatku melihat keseluruhan area foodcourt dengan baik. Aku duduk di sebuah tempat duduk yang berada jauh dari pintu masuk, akan tetapi pintu masuk berada di satu garis lurus dengan pandanganku. Dengan alasan agar dapat melihat siapa saja yang datang, aku sambil berharap menemukan sosok yang aku tunggu. Sambil menunggu, aku mulai mencari makanan di tiap-tiap restoran makanan dengan hanya melihat menu dari jauh. Sambil menderetkan mataku pada setiap menu makanan, tubuhku seolah membeku sesaat setelah melihat sosok yang sudah lama sekali aku rindukan. Aku melihat sosok dirinya berjalan melewati tempatku duduk. Terlihat tubuhnya yang kurus itu sedang mendongak ke atas sebuah restoran, ia juga sedang menyibukkan mata melihat menu restoran tersebut.

Dalam sekejap aku dibuatnya membeku tidak berkutik. Mataku seketika hanya terfokuskan melihat sosoknya, masih tidak percaya ia ada dihadapanku. Sambil mengikuti pergerakannya, ia berjalan menuju tempat duduk agak jauh dari tempatku. Ia duduk di tempat dengan meja panjang yang membuatnya makin terlihat sepi dengan dirinya yang hanya duduk sendirian. Posisi tempatnya duduknya sebenarnya juga termasuk tempat yang dapat melihat seluruh area foodcourt dengan baik, bedanya ia berada di ujung sisi sebelah timur foodcourt.

Sejujurnya, ia memang sosok seseorang yang memang aku tunggu. Aku juga membaca chatnya yang ia kirimkan di grup chat yang berisikan teman-teman lama yang memang sudah lama tidak bertemu. Sebuah chat yang tidak terlalu penting namun aku langsung dapat mengetahui dirinya, posisinya, kondisinya bahkan perasaannya. Sejak terakhir bertemu, ia tidak pernah mengirim chat apapun, ia juga hampir tidak memiliki akun media sosial, oleh karena itu aku tidak mengetahui apapun tentang keadaan dirinya sampai datanglah hari ini. Chat dari dirinya yang memang tidak terlalu penting itu sebenarnya sangat penting bagiku sehingga aku dapat berharap untuk bertemu dengannya sekali lagi. Hari ini pun, bukan berarti aku memiliki janji bertemu dengan dirinya, namun aku menyebut hal seperti ini dengan sebutan "takdir".

Hari itu, saat aku sudah mulai tenang, aku memutuskan untuk memerhatikannya saja dari jauh tanpa menghampirinya. Akan tetapi setelah aku menyelesaikan makan siangku, aku mulai merasakan ada sesuatu yang tidak beres dengan dirinya. Warna wajahnya seketika berubah, aura tubuhnya juga berubah. Aku tidak tahan melihatnya berubah murung seperti itu, aku memutuskan untuk menghampirinya. Dengan mengumpulkan segenap keberanian dan perasaanku, aku berjalan menuju tempat ia duduk.

"Halo, apa kabar?", sapaku. Namun aku tidak mendapatkan jawaban. Aku menunggu beberapa detik.
"Apa kamu baik-baik saja?", tanyaku lagi. Kini ia hanya menoleh, lalu kembali memperhatikan smartphonenya yang tidak menyala yang ia letakkan di atas meja. Ia tidak begitu terkejut melihat diriku. Aku agak sakit hati, tapi aku rasa memang sesuatu sedang terjadi pada dirinya. Aku menyembunyikan semua perasaanku dengan kuat agar tidak meledak di tempat. Aku ingin menangis, namun tetap dapat kutahan sekuat tenaga.
Aku mulai menundukkan tubuhku dan sedikit mendekatkan wajahku dengan dirinya, aku memberanikan diri lagi untuk bertanya dengan sedikit berbisik, "Ada apa? Kamu bisa ceritakan padaku."
Setelah beberapa detik menunggu jawaban, ia menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Aku melihat sedikit air mata mengalir hingga ke dagunya. Hatiku hancur, aku langsung dapat merasakan kesedihan yang ia alami.
"Kalau memang tidak mau cerita, tidak apa-apa aku tidak memaksakannya."
Nampaknya ia masih tidak ingin berbicara, namun ia sedikit bergeser, mungkin agar aku dapat duduk di sebelahnya. Aku kemudian duduk di sebelahnya tanpa mengeluarkan sepatah dua patah kata. Aku sama sekali tidak merasa canggung. Aku juga tidak sedang berusaha mencari topik pembicaraan. Diam memang pilihan terbaik saat ini. Mungkin ia hanya ingin ditemani, pikirku. Sambil menunggu keadaan tenang, aku hanya dapat melihat-lihat sekeliling foodcourt. Untunglah sepertinya tidak ada seorangpun yang sadar kalau seseorang yang duduk disebelahku sedang menangis.

Beberapa menit berlalu, dan aku menyadari tubuh milik seseorang disebelahku ini mulai sedikit mendekatkan dirinya denganku. Meskipun ia tidak menangis dengan terisak, aku sadar kalau dia masih menangis dan sedang menahannya sekuat tenaga untuk menghentikannya. Dengan keadaan lemah seperti itu, satu hal yang terpikirkan olehku adalah memeluknya dan membiarkannya menangis dipelukanku. Namun sepertinya hal itu sangat tidak mungkin aku lakukan, aku tidak memiliki keberanian sebesar itu. Lagipula kami hanyalah teman lama yang sudah tidak bertemu, tidak lebih.
Sambil menahan tangisannya, ia mulai membuka mulutnya untuk berbicara. Ia mulai langsung bercerita apa yang terjadi dan apa yang telah membuatnya menangis seperti itu. Sesuatu telah terjadi di tempat kerjanya. Aku tidak begitu mengerti mengenai pekerjaannya, tetapi aku paham perasaannya.

Setelah mulai tenang, aku mengikutinya kembali ke kantor tempat kerjanya. Disana aku melihat kerisuhan dengan mata kepalaku sendiri. Ia membeku tidak dapat melakukan apapun, aku pun hanya bisa terdiam melihat keadaannya. Orang-orang berjas hitam berlalu lalang melewati diriku, ada juga orang-orang yang dengan tergesa-gesa membawa box-box kardus berlari kecil keluar gedung dan meletakkannya di truk-truk di luar gedung. Aku sungguh tidak paham, namun aku juga melihat orang-orang berkemeja dan mengalungkan card ID mereka berada di luar gedung. Mereka nampaknya berdemo namun tidak begitu terlalu dipedulikan oleh orang-orang di dalam gedung. Tidak lama setelah aku melihat sekumpulan orang-orang yang berdemo itu, temanku yang tadinya membeku disebelahku sudah berlari kecil menuju kumpulan orang-orang berdemo tadi. Mereka tidak begitu banyak bercakap, namun terlihat jelas warna wajah kumpulan orang tadi berubah menjadi  sedikit lebih lega setelah temanku menghampiri mereka.
Aku yang ikut dengannya masih bingung dengan apa yang terjadi, aku hanya bisa membuka kupingku lebar-lebar mendengarkan sedikit percakapan mereka. Dari pembicaraan yang kudengar, mereka sendiri memang hanya bisa pasrah, mereka tidak dapat membalikkan keadaan, sesuatu terjadi dengan sekejap. Beberapa dari mereka memutuskan untuk pulang. Aku dan temanku yang masih tinggal di sana sampai keadaan benar-benar tenang hanya diam berdiri diluar gedung. Aku tahu, meski matanya memerhatikan keadaan gedung kantornya, pikirannya sedang tidak berada disana. Aku hanya dapat menemaninya dan menggenggam tangannya yang dingin itu.

Selesai.

5 September 2019. 09.55 AM.

Senin, 28 Januari 2019

I am back! though with Arashi's news...


Hi, everyone!

I wanna share my thought about this Arashi's news.


Actually in a time like this I really can’t choose my words well. I don’t know how to describe it perfectly in any language. I just can’t easily share my thought at social media too. From yesterday, all I could do is just cry and cry until this morning. I even didn’t sleep well last night. And now is the moment I finally can control my tears and feelings well. Though maybe I could crying again after this. So, this is all about Arashi and my entire life nine years back as Arashi’s fan.
Since I might confuse about what language I could use to confess my feeling, I trying to type it with English first.

First of all, I know I am is just one of all people in this world who shocked about the news from Arashi's leader, Satoshi following its member, Nino, Jun, Aiba and Sho.
They're doing a great job in their entire life for about 20 years. So, actually in my somewhere in my heart there might a chance they must be very tired.

They were have been my hero in my life, my best friend, my brother, my man, my boyfriend, my family, and all bonds might never couldn't be enough. They are the best energy I could have. I didn't know what my life might be if their existence didn't exist in this world. This is really a hard news for me. I was doing my Arashi's songs flashback, and I just realize their existence were always stick in at every corner within my entire life.

Let's spend this two years more to support Arashi with all our might. And so, I just could pray, after the hiatus, after their perfect break, Arashi especially my ichiban, Satoshi will surely come back to us, to their fans❤.

Thank you, and congratulation about your 20th anniversary, Arashi! I love you, we love you, and always be :)

Senin, 29 Oktober 2018

Two in One Post..

Sampai hari ini, pikiran masih dihujani sama pikiran negatif yang gak pernah pergi. Terkadang rasa kesal, iri, dengki, dendam, sedih selalu muncul ke permukaan. Gak jarang pikiran-pikiran itu muncul karena pikiran gue sendiri yang dihasilkan dari teringatnya ‘sesuatu’ di masa lalu. Ya maksudnya, mungkin aja pikiran-pikiran ini cuma ada di dalem pikiran gue aja dan sebenernya tidak benar-benar terjadi.

Gak jarang gue mikir, gue gabisa hidup tanpa kata-kata positif dari orang lain. Entahlah gue juga gangerti sih what happened.

26 November 2017 10.28 PM [Latepost]

-----------------

Serasa baru disadarkan


Dengan apa yang dikatakan bu Ita
Manusia pasti akan selalu merasa dirinya benar
Ya, me-'rasa'...
Biasanya yang seperti itu akan takut,
Ia takut di salahkan
Ia takut berbuat salah
Hm
Padahal sebenarnya lakukan saja apapun itu,
mau salah atau benar.

12 December 2017 7.03 AM [Latepost]

Kelas Religi Jawa

Gatau ini gue telat banget apa gimana, gue baru dapet pencerahan dari mata kuliah religi jawa tadi siang.
Mungkin karena tadi kelompok gue yang presentasi dan gue yg jadi juru bicara kelompok gue ya. Entahlah. Baru bisa ‘mindfulness’ di pertemuan tadi. *mungkin juga gara-gara orang yang bikin salfok lagi gak masuk kelas hehe*

Materi pertemuan minggu ini itu ngebahas tentang “Sangkan-paraning Dumadi”.
Kalo di islam, konsepnya sih “Innalilahi Wa Innailaihi Rajiun”.
Dari diskusi kelas tadi intinya konsep itu sih bagaimana kita menjalani hidup ini untuk mencapai kesempurnaan bersama Tuhan atau kembali kepada Tuhan. Pokoknya hidup ini tuh bakal terus berjalan dan berputar terus selagi ada yang salah, selagi kita memang dipaksa ‘menyadari’ apa yang salah sama diri kita lewat ujian-ujian yang di kasih sm Tuhan.
Kalo di ajaran hindu-buddha ada konsep karma. Di ajaran atheis ada konsep “kamu akan mendapatkan kembali apa yang kamu lakukan”, entahlah lupa namanya apa.
Jadi setiap hari itu ujian pasti dateng, bahkan contohnya aja dapet rejeki melimpah sekalipun juga termasuk ujian buat kita. Dengan pendalaman ‘pengalaman’ ujian-ujian itu, kita diharuskan mengerti apa hikmah yang kita dapet dari kejadian tiap kejadian di hidup kita.
Intinya emang kita diharuskan “eling”, kalo kata orang Jawa. Inget posisi hidup kita. Bahwa selama kita masih berbuat kesalahan, hidupmu akan terus berlanjut karena kamu harus menyadari dan ‘membayar’ kesalahan-kesalahanmu itu.

26 November 2017 5.47 PM [Latepost]

One

Bukannya mau sombong, terlihat mengeluh, ataupun mau membedakan atau menggolongkan orang. Jadi anak pertama itu berat banget. Apa-apa harus bisa sendiri, jadi anak yang mandiri dimanapun dan kapanpun berada, harus bisa mengayomi yang lebih muda, harus bisa lebih sabar dan pengertian. Pokoknya dari kecil udah dibiasain seperti itu. Jujur sampe sekarang pun rasanya masih berat banget buat ngejalaninnya. Umur gue belom tua-tua amat sih, kepribadian gue jg masih belom dewasa. Tapi umur gue udah dibilang termasuk ke dalam umur yang harusnya udah terbiasa melakukan itu semua. Walaupun memang rasanya udah merasa terbiasa dengan itu semua, lama-lama ya capek juga. Pengen rasanya dimanjain, dipeduliin, diperhatiin, dan yaaahhh dispesialin layaknya anak bungsu. Tapi terkadang geli juga sih kalo digituin. Aneh rasanya. Gengsi. Ha ha ha.. Tapi begitu harus dipaksa berperan jadi anak pertama tuh ya, bisa jadi kesel sendiri. Kenapa gue dilahirkan jadi anak pertama, kenapa gue dilahirin duluan, kenapa gue secara tidak langsung dipaksa harus bisa ini-itu sendiri. Sebenernya udah dari lama sih gue merasa ‘kelelahan’ yang seperti ini. Justru karena udah ‘lama’ sih, capek banget rasanya. Gak jarang loh gue merasa depresi dengan lebel ‘anak pertama’ ini. Gak jarang juga gue merasa sampai ingin bunuh diri karena udah gak kuat. Bodo amat deh kalo dibilang berlebihan. Yang bukan anak pertama juga gaakan ngerti. Kalo yang anak pertama gak ngerti juga, mungkin didikan orang tua dan keluarganya beda sama gue.

Bahkan saking gak kuatnya, perasaan merasa ‘keberatan’ ini suka gue bagi2in ke sekeliling gue secara gak langsung. Kadang gue secara gak langsung tuh memaksa untuk orang merasakan apa yang gue rasain. Gue kadang merasa orang lain sama seperti gue. Bisa mandiri lah, bisa mengayomi lah, bisa menjadi pemimpin lah, pokoknya bisa segalanya tanpa bantuan orang lain. Tapi nyatanya memang benar tidak semua bisa melakukan itu kan. Intinya ya maaf-maaf aja kalo gue ada salah. Ya sudahlah, yg penting uneg-uneg gue udah keluar. Ehehe.. makasih banget buat siapapun yang udah sempetin baca curhatan singkat dan gak jelas ini. Salam, anak pertama keluarga berada.

13 November 2017 5.26 AM [Latepost]

Cerita Seram

Sebagian dari kalian yang sering menonton tv pasti sudah sering melihat iklan ini. Namun beberapa hari yang lalu, saya yang memang jarang menonton tv baru-baru ini melihat ada iklan paling seram menurut saya. Bukan karena hantu, tapi peringatan kematian.

Ya, iklan larangan merokok.

Saya pribadi mungkin memang tidak mampu menghentikan siapapun yang merokok di lingkungan saya agar benar-benar berhenti merokok. Bahkan iklan yang baru saya lihat tersebut pasti tidak banyak membantu membuat seseorang berhenti merokok juga. Namun cerita saya ini sungguhan.

AYAH SAYA SUDAH BERHENTI MEROKOK KARENA SAYA.

Sejak lahir saya memang mempunyai fisik yang lemah. Saya juga memiliki masalah gangguan pernafasan sejak saya masih kecil. Awalnya saya mengira memang penyakit bawaan genetik orang tua saya. Namun setelah ditelusuri ternyata saya mendapatkan gangguan pernafasan tersebut dikarenakan saya tinggal satu rumah dengar perokok aktif, yaitu ayah saya. Ayah saya sudah merokok jauh sebelum saya lahir.

Suatu hari, saya dilarikan ke ruang UGD sebuah rumah sakit swasta di kawasan Pondok Pinang karena ganguan pernafasan saya kambuh. Intinya disana jantung saya diperiksa walaupun saya tidak memiliki riwayat penyakit jantung. Hari itu saya melakukan pemeriksaan jantung di ruangan yang berbeda, saya tidak mendengar dokter saya berkata apa pada kedua orang tua saya.

Kagetnya saya ketika menyadari beberapa hari kemudian ayah saya benar-benar berhenti total dari merokok. Bahkan dirumah saya ditempelkan stiker perda larangan merokok. Selain itu, gangguan pernafasan saya semakin hari berangsur-angsur semakin membaik sehingga saya sudah tidak lagi pergi ke rumah sakit.

Orang-orang yang memiliki kebiasaan merokok setiap harinya pasti akan berkata, "merokok maupun tidak merokok sama-sama akan mati juga". Namun bukankah dirimu hanya sedang memperpendek usia hidupmu dan orang-orang disekelilingmu? Tidakkah kau bersedih bila seorang perokok pasif yang kau cintai meninggal terlebih dahulu karena menghisap asap rokok darimu? Tidakkah kau membayangkan akan menyesali perbuatan merokokmu dapat merusak tubuhmu dalam waktu cepat dan merepotkan siapapun yang harus merawatmu setiap harinya?

Sekali lagi saya katakan bahwa saya yakin saya tidak akan mampu membuat seseorang berhenti merokok dari cerita ini. Namun saya hanya ingin berbagi pengalaman bahwa saya kini menjalani hari-hari saya dengan penuh kebahagiaan dan rasa syukur karena ayah saya sudah lama berhenti merokok.

16 August 2017 6.53 PM [Latepost]

Kenapa aku harus merasa lelah?

Bukankah kau sudah berjuang? Sudah 20 tahun lebih kan Kau berjuang sampai sini untuk bisa hidup dengan sedemikian rupa Semua perjuangan yg kau lakukan itu Sudahkah kau lupa? Putus semangat mungkin memang kadang datang menghampiri Tapi kau harus segera bangkit kembali bukan? Apa kau mau perjuanganmu selama ini menjadi sia-sia? Hanya karena alasan sepele kau menjadi tidak semangat Jangan kau tiru perbuatan buruk orang tuamu! Jangan kau ikuti perbuatan tidak senonoh teman dan lingkungan sekitarmu! Mereka mungkin hanya menempel pada hidupmu selamanya Tapi tidak selamanya mereka mengerti akan perjuanganmu! Besar kemungkinan juga mereka akan mati bersama denganmu! 

  
18 July 2017 5.19 AM [Latepost]

A bit of trouble

Pernahkah kamu merasa bersalah?
Bersalah karena 'perasaan' yg kau miliki.
Pernahkah kau suatu saat merasa bersalah dengan perasaan sayang kepada seseorang yg kau cintai?
Aku, pernah.
Ketika perasaan itu datang secara tiba-tiba, tanpa peringatan, tanpa aba-aba.
Ia memberi warna, sekaligus nodanya.
Ehem. Maksudku...
Ia awalnya terasa sangat menyenangkan, membahagiakan, penuh impian dan harapan.
Namun pada akhirnya perasaan itu membuat dirimu sesak, merasa putus asa, dan tidak jarang ia terasa begitu menyakitkan bahkan penuh dengan penyesalan serta rasa takut yg menghantu hampir separuh hidupmu.
Mungkin terlihat berlebihan, tetapi pasti juga tidak jarang kau merasa ingin berhenti terhadap perasaan itu selamanya. Tak ingin lagi kau terlibat didalamnya.
Entahlah. Rasanya aku hanya sedang berfikir, untuk apa rasa cinta itu datang bila pada akhirnya rasa itulah yg perlahan dapat membunuhmu?



17 July 2017 9.41 PM [Latepost]