Senin, 29 Oktober 2018

Two in One Post..

Sampai hari ini, pikiran masih dihujani sama pikiran negatif yang gak pernah pergi. Terkadang rasa kesal, iri, dengki, dendam, sedih selalu muncul ke permukaan. Gak jarang pikiran-pikiran itu muncul karena pikiran gue sendiri yang dihasilkan dari teringatnya ‘sesuatu’ di masa lalu. Ya maksudnya, mungkin aja pikiran-pikiran ini cuma ada di dalem pikiran gue aja dan sebenernya tidak benar-benar terjadi.

Gak jarang gue mikir, gue gabisa hidup tanpa kata-kata positif dari orang lain. Entahlah gue juga gangerti sih what happened.

26 November 2017 10.28 PM [Latepost]

-----------------

Serasa baru disadarkan


Dengan apa yang dikatakan bu Ita
Manusia pasti akan selalu merasa dirinya benar
Ya, me-'rasa'...
Biasanya yang seperti itu akan takut,
Ia takut di salahkan
Ia takut berbuat salah
Hm
Padahal sebenarnya lakukan saja apapun itu,
mau salah atau benar.

12 December 2017 7.03 AM [Latepost]

Kelas Religi Jawa

Gatau ini gue telat banget apa gimana, gue baru dapet pencerahan dari mata kuliah religi jawa tadi siang.
Mungkin karena tadi kelompok gue yang presentasi dan gue yg jadi juru bicara kelompok gue ya. Entahlah. Baru bisa ‘mindfulness’ di pertemuan tadi. *mungkin juga gara-gara orang yang bikin salfok lagi gak masuk kelas hehe*

Materi pertemuan minggu ini itu ngebahas tentang “Sangkan-paraning Dumadi”.
Kalo di islam, konsepnya sih “Innalilahi Wa Innailaihi Rajiun”.
Dari diskusi kelas tadi intinya konsep itu sih bagaimana kita menjalani hidup ini untuk mencapai kesempurnaan bersama Tuhan atau kembali kepada Tuhan. Pokoknya hidup ini tuh bakal terus berjalan dan berputar terus selagi ada yang salah, selagi kita memang dipaksa ‘menyadari’ apa yang salah sama diri kita lewat ujian-ujian yang di kasih sm Tuhan.
Kalo di ajaran hindu-buddha ada konsep karma. Di ajaran atheis ada konsep “kamu akan mendapatkan kembali apa yang kamu lakukan”, entahlah lupa namanya apa.
Jadi setiap hari itu ujian pasti dateng, bahkan contohnya aja dapet rejeki melimpah sekalipun juga termasuk ujian buat kita. Dengan pendalaman ‘pengalaman’ ujian-ujian itu, kita diharuskan mengerti apa hikmah yang kita dapet dari kejadian tiap kejadian di hidup kita.
Intinya emang kita diharuskan “eling”, kalo kata orang Jawa. Inget posisi hidup kita. Bahwa selama kita masih berbuat kesalahan, hidupmu akan terus berlanjut karena kamu harus menyadari dan ‘membayar’ kesalahan-kesalahanmu itu.

26 November 2017 5.47 PM [Latepost]

One

Bukannya mau sombong, terlihat mengeluh, ataupun mau membedakan atau menggolongkan orang. Jadi anak pertama itu berat banget. Apa-apa harus bisa sendiri, jadi anak yang mandiri dimanapun dan kapanpun berada, harus bisa mengayomi yang lebih muda, harus bisa lebih sabar dan pengertian. Pokoknya dari kecil udah dibiasain seperti itu. Jujur sampe sekarang pun rasanya masih berat banget buat ngejalaninnya. Umur gue belom tua-tua amat sih, kepribadian gue jg masih belom dewasa. Tapi umur gue udah dibilang termasuk ke dalam umur yang harusnya udah terbiasa melakukan itu semua. Walaupun memang rasanya udah merasa terbiasa dengan itu semua, lama-lama ya capek juga. Pengen rasanya dimanjain, dipeduliin, diperhatiin, dan yaaahhh dispesialin layaknya anak bungsu. Tapi terkadang geli juga sih kalo digituin. Aneh rasanya. Gengsi. Ha ha ha.. Tapi begitu harus dipaksa berperan jadi anak pertama tuh ya, bisa jadi kesel sendiri. Kenapa gue dilahirkan jadi anak pertama, kenapa gue dilahirin duluan, kenapa gue secara tidak langsung dipaksa harus bisa ini-itu sendiri. Sebenernya udah dari lama sih gue merasa ‘kelelahan’ yang seperti ini. Justru karena udah ‘lama’ sih, capek banget rasanya. Gak jarang loh gue merasa depresi dengan lebel ‘anak pertama’ ini. Gak jarang juga gue merasa sampai ingin bunuh diri karena udah gak kuat. Bodo amat deh kalo dibilang berlebihan. Yang bukan anak pertama juga gaakan ngerti. Kalo yang anak pertama gak ngerti juga, mungkin didikan orang tua dan keluarganya beda sama gue.

Bahkan saking gak kuatnya, perasaan merasa ‘keberatan’ ini suka gue bagi2in ke sekeliling gue secara gak langsung. Kadang gue secara gak langsung tuh memaksa untuk orang merasakan apa yang gue rasain. Gue kadang merasa orang lain sama seperti gue. Bisa mandiri lah, bisa mengayomi lah, bisa menjadi pemimpin lah, pokoknya bisa segalanya tanpa bantuan orang lain. Tapi nyatanya memang benar tidak semua bisa melakukan itu kan. Intinya ya maaf-maaf aja kalo gue ada salah. Ya sudahlah, yg penting uneg-uneg gue udah keluar. Ehehe.. makasih banget buat siapapun yang udah sempetin baca curhatan singkat dan gak jelas ini. Salam, anak pertama keluarga berada.

13 November 2017 5.26 AM [Latepost]

Cerita Seram

Sebagian dari kalian yang sering menonton tv pasti sudah sering melihat iklan ini. Namun beberapa hari yang lalu, saya yang memang jarang menonton tv baru-baru ini melihat ada iklan paling seram menurut saya. Bukan karena hantu, tapi peringatan kematian.

Ya, iklan larangan merokok.

Saya pribadi mungkin memang tidak mampu menghentikan siapapun yang merokok di lingkungan saya agar benar-benar berhenti merokok. Bahkan iklan yang baru saya lihat tersebut pasti tidak banyak membantu membuat seseorang berhenti merokok juga. Namun cerita saya ini sungguhan.

AYAH SAYA SUDAH BERHENTI MEROKOK KARENA SAYA.

Sejak lahir saya memang mempunyai fisik yang lemah. Saya juga memiliki masalah gangguan pernafasan sejak saya masih kecil. Awalnya saya mengira memang penyakit bawaan genetik orang tua saya. Namun setelah ditelusuri ternyata saya mendapatkan gangguan pernafasan tersebut dikarenakan saya tinggal satu rumah dengar perokok aktif, yaitu ayah saya. Ayah saya sudah merokok jauh sebelum saya lahir.

Suatu hari, saya dilarikan ke ruang UGD sebuah rumah sakit swasta di kawasan Pondok Pinang karena ganguan pernafasan saya kambuh. Intinya disana jantung saya diperiksa walaupun saya tidak memiliki riwayat penyakit jantung. Hari itu saya melakukan pemeriksaan jantung di ruangan yang berbeda, saya tidak mendengar dokter saya berkata apa pada kedua orang tua saya.

Kagetnya saya ketika menyadari beberapa hari kemudian ayah saya benar-benar berhenti total dari merokok. Bahkan dirumah saya ditempelkan stiker perda larangan merokok. Selain itu, gangguan pernafasan saya semakin hari berangsur-angsur semakin membaik sehingga saya sudah tidak lagi pergi ke rumah sakit.

Orang-orang yang memiliki kebiasaan merokok setiap harinya pasti akan berkata, "merokok maupun tidak merokok sama-sama akan mati juga". Namun bukankah dirimu hanya sedang memperpendek usia hidupmu dan orang-orang disekelilingmu? Tidakkah kau bersedih bila seorang perokok pasif yang kau cintai meninggal terlebih dahulu karena menghisap asap rokok darimu? Tidakkah kau membayangkan akan menyesali perbuatan merokokmu dapat merusak tubuhmu dalam waktu cepat dan merepotkan siapapun yang harus merawatmu setiap harinya?

Sekali lagi saya katakan bahwa saya yakin saya tidak akan mampu membuat seseorang berhenti merokok dari cerita ini. Namun saya hanya ingin berbagi pengalaman bahwa saya kini menjalani hari-hari saya dengan penuh kebahagiaan dan rasa syukur karena ayah saya sudah lama berhenti merokok.

16 August 2017 6.53 PM [Latepost]

Kenapa aku harus merasa lelah?

Bukankah kau sudah berjuang? Sudah 20 tahun lebih kan Kau berjuang sampai sini untuk bisa hidup dengan sedemikian rupa Semua perjuangan yg kau lakukan itu Sudahkah kau lupa? Putus semangat mungkin memang kadang datang menghampiri Tapi kau harus segera bangkit kembali bukan? Apa kau mau perjuanganmu selama ini menjadi sia-sia? Hanya karena alasan sepele kau menjadi tidak semangat Jangan kau tiru perbuatan buruk orang tuamu! Jangan kau ikuti perbuatan tidak senonoh teman dan lingkungan sekitarmu! Mereka mungkin hanya menempel pada hidupmu selamanya Tapi tidak selamanya mereka mengerti akan perjuanganmu! Besar kemungkinan juga mereka akan mati bersama denganmu! 

  
18 July 2017 5.19 AM [Latepost]

A bit of trouble

Pernahkah kamu merasa bersalah?
Bersalah karena 'perasaan' yg kau miliki.
Pernahkah kau suatu saat merasa bersalah dengan perasaan sayang kepada seseorang yg kau cintai?
Aku, pernah.
Ketika perasaan itu datang secara tiba-tiba, tanpa peringatan, tanpa aba-aba.
Ia memberi warna, sekaligus nodanya.
Ehem. Maksudku...
Ia awalnya terasa sangat menyenangkan, membahagiakan, penuh impian dan harapan.
Namun pada akhirnya perasaan itu membuat dirimu sesak, merasa putus asa, dan tidak jarang ia terasa begitu menyakitkan bahkan penuh dengan penyesalan serta rasa takut yg menghantu hampir separuh hidupmu.
Mungkin terlihat berlebihan, tetapi pasti juga tidak jarang kau merasa ingin berhenti terhadap perasaan itu selamanya. Tak ingin lagi kau terlibat didalamnya.
Entahlah. Rasanya aku hanya sedang berfikir, untuk apa rasa cinta itu datang bila pada akhirnya rasa itulah yg perlahan dapat membunuhmu?



17 July 2017 9.41 PM [Latepost]

Aku yang Pernah Ada.

Hidupku kini terasa jauh lebih berat. Antara sebelum hingga setelah lebaran, hal ini pasti terjadi. Setidaknya seseorang harus tahu meskipun tidak mengerti. Aku mungkin memang dilahirkan sebagai wanita. Namun tanggungjawabku rasanya jauh melebihi pria biasa manapun. Dikatakan tanggungjawab sepertinya memang terlalu berlebihan. Tetapi aku memiliki perasaan awareness (kesadaran) yang cukup tinggi untuk membuatku merasa ikut bertanggungjawab. Aku terlahir sebagai anak pertama yang memiliki orang tua yang sangat peduli dengan lingkungan sekitarnya, terutama sanak saudaranya sendiri. Selain itu, aku dilahirkan dengan darah kebangsawanan, keturunan ke-6 dari Hamengku Buwuna VI Kraton Yogyakarta Hadiningrat. Darah ini diturunkan langsung oleh Ayah kandungku sendiri.

Singkat cerita, sejujurnya sulit rasanya hidup dan tumbuh di dalam keluarga seperti ini. Semuanya tidak terasa mudah bagiku, terutama bagiku yang menuruni sifat pendiam dan sulit berbicara dengan orang lain yang berasal dari sifat Ibuku. Ketika aku masih kanak-kanak, awalnya tidak begitu berat. Namun begitu aku mulai beranjak dewasa dan memasuki kehidupan sekolah yang normal, semuanya begitu terasa berat. Hidupku begitu setengah-setengah, pikirku. Maksudnya setengah-setengah adalah ketika Ayahku sangat menjunjung tinggi nilai kasta yang berlaku di masyarakat, aku harus bisa mengerti dan mengimbanginya. Setengah aku jalani hidup di keluarga yang penuh kedisiplinan sopan-santun dan setengahnya lagi aku jalani dengan hidup di kehidupan luas yang secara tidak langsung mengajarkanku kebebasan memiliki pendapat. Ayahku mendidikku dirumah dengan sikap disiplin sejak kecil, aku tumbuh menjadi anak yang terlalu serius menanggapi apapun. Ayahku mengajarkan bagaimana bersikap layaknya keturunan bangsawan yang sebenarnya, tidak boleh begini dan tidak boleh begitu. Ayahku secara tidak langsung juga menyuruhku untuk meneruskan keluarga dalam hal apapun. Hal itu beliau sampaikan saat usiaku masih dini untuk mengetahui semua tanggungjawab itu. Tidak jarang aku menolak mentah-mentah karena memang belum mengerti apapun, tidak jarang aku bertengkar mulut dengan Ayahku dan menangis karenanya. Semakin dewasa ini, pikiranku yang terbuka oleh dunia luar tidak bisa aku gunakan di dalam keluargaku yang menggenggam teguh peraturan tidak tertulis keluarga, seperti tata krama bersikap, sopan-santun, tata krama makan, dan lain-lainnya. Bahkan teori-teori 'keilmuan' dunia pun ditolak mentah-mentah, misalnya seperti gotong-royong masyarakat Jawa, feminisme Eropa, atau teori yang menyebutkan bahwa siapa yang lebih kuat akan memenangkan peperangan, serta teori-teori lainnya.
Ah sudahlah, aku muak. Mungkin akan aku teruskan lain waktu.



16 June 2017 5.42 PM [Latepost]

Turning Point.


Lanjutan cerita fiksi sepenggal kehidupan. Kali ini anggap saja ceritanya masih karangan fiksi. Sebelumnya telah kuceritakan bagaimana hidupku tak berarti dan tak ada harganya meskipun hidupku sempurna. Namun semua kesempurnaan itu terasa semu. Mungkin hal tersebut adalah petunjuk agar aku bisa kembali pada Yang Maha Kuasa. Agar aku hanya memikirkan Tuhan dan mencari jalan menuju sisiNya. Namun sepertinya takdirku itu masih jauh sekali. Masih satu milyar langkah lagi untuk menuju keabadian yang hakiki. Mungkin. Tak ada yang tahu selain Tuhan.

Tahun ini, sudah 6 bulan lebih berlalu hatiku lumpuh karena sakit. Di sisi lain, hatiku sedang dirawat selama 6 bulan tersebut. Turning point namanya, aku sedang ingin kembali ke wujudku semula. Ceria, tak kenal lelah


Sepertinya berhenti mengucap rindu adalah salah.

9 June 2017 8.45 PM [Latepost]

Sepenggal Kehidupan.

Anggap saja ceritaku ini sungguh fiksi. Percayalah sampai akhir cerita panjang ini hanyalan bualan. Namun bila sampai kau temukan kebenarannya, kau akan percaya pada sesuatu yang berharga daripada pengalaman.

Jujur saja sudah tak ada lagi motivasi pada diriku ini untuk meneruskan hidupku. Apa sebenarnya kerinduanku pada hidup. Aku tak tahu. Tak ada yang lebih berharga dari nilai hidupku. Diri ini lagi-lagi tak percaya pada sesuatu yang tadinya ku anggap berharga. Ingin rasanya ku bunuh jiwaku sendiri. Tapi bagaimana caranya? Aku memiliki takdir yang tak ku ketahui jalannya.

Aku percaya dengan adanya Tuhan. Aku percaya aku hanyalah makhluk kecil yang diciptakan bersamaan dengan adanya harapan. Namun dibalik itu, harapan bukanlah apa-apa tanpa adanya kepercayaan pada kehidupan. Kembali lagi, aku sungguh percaya Tuhan Maha Adil dan Tuhan adalah sempurna. Tuhan itu baik pada umatnya. Hanya saja 'aku' lah masalahnya. Aku tak bisa percaya pada kehidupanku. Hidup inilah yang tidak adil. Untuk apa aku hidup? Bila ujungnya akan kembali pada Tuhan. Kembalikanlah aku sekarang. Semakin aku mencari jalan pada kehidupanku disini, semakin aku terjebak. Namun tak cukup juga bekal yang kupersiapkan. Rasanya aku sudah tak peduli pada apapun. Batinku hancur oeh kesengsaraan, juga oleh kebahagiaan. Tak bisa lagi hatiku ini merasa begitu bahagia, karena tak bisa juga kurasakan kesengsaraan. Aku butuhkan keduanya, tetapi aku sudah muak. Hidup ini selalu berputar pada ketidaksempurnaan. Memang itulah takdir manusia, pikirku.

Apa yang membuatku sedemikian rupa tidak menyukai hidupku?
Pertama, kehidupan itu sendiri. Kedua, manusia yang sedang menjalani 'hidup'nya bersamaan dengan ruang dan waktu yang sama dengan ruang dan waktu yang kujalani ini. Ketiga, diriku sendiri.

Kuakui, keluargaku begitu sempurna. Pada detik ini, aku masih punya Ayah dan Ibu juga satu adik perempuan. Mereka belum meninggalkanku. Mereka jelas 'ada', tentu untuk kehidupan ini. Mereka berada pada status dan perannya masing-masing. Meskipun aku tidak pernah jujur pada mereka, aku mencintai mereka lebih dari hidupku. Tidak jarang tumpah tangisku bila mengetahui hal buruk terjadi pada mereka. Aku juga jelas bahagia bila sesuatu hal baik menimpa keluargaku. Namun entah sejak kapan, aku mulai muak dengan kehidupan penuh kebahagiaan semu ini. Ayahku mulai tidak percaya pada perkembangan di hidupku, ibuku tetap pada pendiriannya untuk percaya pada pekerjaannya sebagai istri dari ayahku, juga adikku yang masih sibuk berkutat dengan hidupnya sendiri untuk mencari dan mencapai makna kehidupan.
Berat memang rasanya begitu tahu Ayahku selalu menyalahkan orang-orang yang mendukungnya, begitu juga ibuku yang terlihat hanya menyayangi adikku. Terlebih berat lagi rasanya saat tahu bahwa adikku terlalu egois untuk selalu memikirkan dirinya sendiri dibandingkan mencari kehidupan bersama teman sepermainannya. Entahlah, aku mungkin salah dalam menilai. Tapi itulah yang aku rasakan. Seperti tak ada nilainya, hidupku ada atau tiada dalam hidup mereka, aku kadang merasa tidak berguna. Kupikir lebih baik aku tidak ada daripada memberatkan mereka, pikirku.

Munurutku, hidup ada karena 'cinta'. Sebagian besar wanita di dunia ini pasti juga berpikir demikian. Engkau akan dapatkan makna kehidupan sebagai manusia setelah kau mengerti arti cinta yang tulus. Entah cinta kasih sayang pada keluarga, cinta kebahagiaan pada teman dan sahabat, ataupun hasrat cinta pada kekasih. Engkau bukanlah lagi berjiwa manusia bila tak punya hati. Jiwamu telah lumpuh oleh kegelapan hati manusia bila itu terjadi, kejahatan dan masa kekelaman bisa merajalela bila umat manusia tak punya hati.

Aku? Tentu saja aku punya sahabat. Aku juga punya kekasih hati yang kini sangat kupuja-puja. Ehem maaf ralat, aku tidak memuja kekasihku, aku hanya menyayanginya dan mencintainya sepenuh hatiku dengan tulus ikhlas.

Terdapat dua kesalahan pada kasih sayangku untuk sahabat baikku. Yang pertama, aku memiliki sahabat paling terbaik yang kumiliki sejak SMA. Tiga tahun di SMA, tiga tahun pula aku bersamanya. Indah sekali masa-masa itu sampai akhirnya kami terpisahkan jarak. Aku masih menyayanginya, aku pun masih berkomunikasi baik dengannya. Namun rasanya kurang, tak jarang aku melupakannya karena aku miliki sahabat lain ditempatku yang sekarang ini. Kesalahan yang kedua terletak pada sahabat-sahabat yang kumiliki sekarang. Mereka hidup berdampingan denganku karena memiliki tujuan yang sama. Melalui dan melewati ruang dan waktu yang sama. Berjalan sendiri-sendiri tetapi secara bersamaan. Klise sekali hidup bersama mereka, penuh kasih sayang, penuh drama, canda tawa juga isak tangis. Perasaanku mengatakan, bila tujuan kita selamanya hilang, selamanya pula kita mulai menjauh. Tergantung dengan ruang dan waktu, mungkinkah mereka yang berjalan 'sendiri-sendiri' tadi mampu untuk hidup bergotong-royong bersama-sama? Bukan untuk dirinya sendiri tetapi untuk kita bersama. Kurasa sedikit agak sulit.

Begitu juga kekasihku saat ini. Kurasa dia-lah cobaan dalam hidupku yang amat terasa sangat berat. Ceritanya agak panjang. Akan aku sambung lain waktu.

Cerita fiksi ini bersambung esok hari... terima kasih bagi yang telah meluangkan waktunya untuk membaca sedikit cerita monolog ini.

9 June 2017 6.57 AM [Latepost]

Investasi Waktuku.

Entahlah dari mana aku dapatkan kalimat itu. Tapi benar adanya. Aku sedang menginvestasikan waktuku untuk seseorang. Entahlah rasa ini bercampur aduk. Aku lelah. Aku tak ingin berpikir lagi. Aku tahu ini semua proses kehidupanku. Tapi tolonglah, buat lebih simpel. Kenapa sih. Aku tak ingin waktuku terbuang sia-sia. Aku tahu disetiap akhir pasti akan ada awal lagi. Tapi aku juga mengerti disetiap awal juga ada akhirnya. Aku takut. Aku terlalu takut. Aku takut untuk memulai karena takut untuk mengakhiri dan akan memulainya lagi. Begitu saja terus.
Aku lelah untuk tidur lebih malam, dan bangun terlalu pagi. Aku sungguh kelelahan. Aku bosan dengan hobiku menguras air mata ini demi sesuatu yang mungkin sebenarnya tidak penting.


6 May 2017 3.44 AM [Latepost]

You

Aku pesimis dan tak percaya diri. Aku tak mau berharap lebih karena aku takut. Aku juga trauma.
Namun meski begitu, dibalik perasaan-perasaan negatif seperti itu.. aku ingin menyayanginya sebagaimana aku pernah merasakan jatuh cinta. Aku ingin bahagia. Rasa nyaman yang telah muncul sesaat aku mulai mengenal dia, ku coba untuk menggunakan rasa nyaman itu guna menyelimuti rasa sakit dari luka yang pernah ada.
Teringatnya bayangan setiap masa lalu yang tak ingin ku ingat jelaslah pasti selalu menyakitkan. Hati yang rasanya telah dicabik-cabik. Air mata yang terbuang sia-sia. Serta pikiran-pikiran yang pernah mengganggu aktivitasku di masa lalu. Ingin rasanya segera membuangnya begitu saja.
Namun begitu sekali mengingatnya, hancur semua rasanya. Aku merasa menyesal telah jatuh cinta. Aku menyesal telah mengerahkan semua kehidupanku hanya untuk orang seperti itu. Aku merasa lelah. Bahkan aku selalu menjadi tidak percaya diri karena merasa selalu akan ditolak.
Untuk yang kesekian kalinya, aku tak ingin merasakan jatuh cinta.
Juga untuk yang kali ini. Berkali-kali aku terus mencoba mengelak bahwa aku telah jatuh cinta. Berulang kali aku mengelak bahwa aku sungguh-sungguh telah menyayangi dirinya. Tapi ternyata, aku salah. Dirinya juga hampir juga pernah merasakan apa yang aku rasakan di masa lalu. Rasa lelah dan takut menghampiri menjadi satu saat kita bertemu. Kita saling ragu-ragu dalam membuat langkah lebih besar. Karena kita sama-sama merasakan ketakutan yang sama. Sebenarnya, kebodohan-kebodohan yang tak ingin terulang kembali membuat kita sama-sama sulit untuk terbuka lebar.


[Latepost] 5 May 2017 6.22AM

Kembali lagi...

Hallo~ yuhuuu~ aku kembali lagiii~ ahahaha✋✌
setalah 2 tahun ya tidak ngepost disini
Akhirnya ganti layout tema blog ini supaya jadi lebih simple lagi🙌
karena blog ini dulunya dipake saat-saat masih SMP SMA dan juga masa2 kuliah juga kayaknya hehe sekarang karena udah lulus akhirnya memutuskan ganti layout jadi agak lebih dewasa haha
Apa sih dewasa maksudnya jadi lebih angun hehe💃

Langsung aja deh, maksudku nulis disini lagi adalah dengan tujuan mau mempublikasikan beberapa coretan, curhatan dan tulisan2 lain yg ada pentingnya ada juga yg gak pentingnya sih hehe
Tulisan-tulisan itu biasanya cuma disimpen aja di notes iPhone ku aja.😪
Sekarang merasa agak menuh-menhin notes jadinya kiranya kupikir mending ada beberapa yg dipost aja deh ke blog...

Jadi intinya setelah post ini, bakal ada post-post yg berasal dari masa laluku hehe 😣asem.
trus di post ini mungkin bakal aku edit nantinya dan naro link-link post itu di post ini.

Yap, udah segitu aja deh ya.. sampai berjumpa di post selanjutnya! hehe😄

EDITED
nah dibawah ini ada daftar2 link dari post-post yg latepost dari notes iPhone hehe


Makasih semuanyaaa❤