Rabu, 27 Juli 2016

Kenangan yang Teringat

Detik ini aku menulis tulisan ini aku masih berumur 19 tahun. Sekarang masih bulan Juli. 5 bulan lagi aku akan memasuki usia 20 tahun. Sungguh cepat waktu berjalan. Aku bisa menulis (mengetik) ini karena aku sedang liburan dari kehidupan perkuliahan yang padat akan mata kuliah yang sulit kumengerti ataupun tugas-tugas berat organisasi. Saat masuk kuliah bulan Agustus nanti, aku akan memasuki semester 5 yang diprediksikan salah satu semester yang paling berat juga penuh dengan kegiatan organisasi. Aku tak peduli seberat apapun nanti. Asal aku masih bisa berusaha dan berdoa, bagiku semua itu tak masalah. Masalahnya justru akan datang saat pikiranku tidak fokus terhadap tanggungjawabku yang harus aku laksanakan. Hanya satu hal itu saja yang kira-kira paling aku takuti.

Kalau boleh jujur, selama liburan ini aku berada dirumah. Aku sedang tidak berada di lingkungan kampus. Yang intinya, aku akan lebih sering mengingat dan meratapi masa lalu yang sering terbesit saat waktuku sangat luang. Selain rumahku yang terletak di salah satu pusat kota Jakarta Selatan, rumahku ini adalah tempatku pulang saat aku masih menduduki bangku SMA. Sehingga sangat memungkinkan bagiku untuk mengingat masa lalu lebih sering bila aku berada dirumah ini.
Sungguh, terkadang aku masih tidak menyangka aku akan merasakan kerinduan yang luar biasa bila sedang berada dirumah ini. Kerinduan yang jarang aku rasakan bila aku berada dalam lingkungan kampus. Kerinduan akan sesuatu yang kata orang-orang merupakan kenangan paling tak terlupakan dalam hidup sebagian besar orang-orang. Kerinduan yang bisa dibilang sia-sia bila diingat-ingat. Karena biasanya hanya akan mengakibatkan keinginan si perindu untuk memutar ulang waktu untuk merasakan kembali rasa menyenangkan di masa yang dirindukannya itu. Tapi sayangnya, ternyara akulah salah satunya. Akulah salah satu perindu masa-masa itu. Akulah salah satu orang yang tidak bisa lepas dari kenangan itu.

Dulu pada awal aku baru saja menduduki bangku SMA kelas 1 itu, aku sering mendengar pembicaraan orang yang lebih tua dariku berkata kalau kenangan dimasa SMA adalah kenangan yang paling paling tidak bisa dilupakan oleh sebagian besar orang. Awalnya aku merasa mungkin hal itu hanya berlaku bagi orang yang berbicara begitu, karena ia yang merasakannya. Aku juga merasa kalau aku mungkin tidak akan merasakan demikian. Karena pada saat itu juga aku tidak merasakan apa-apa dan karena aku menjalaninya dengan sangat normal.

Tapi ternyata, semua itu salah. Aku sedikit menyesal dengan pikiranku yang masih kekanak-kanakan waktu itu. Andai aku bisa merasakan betapa menyenangkannya masa SMA, aku mungkin sudah memiliki lebih banyak kenangan manis dan sudah mengabadikannya misalnya lewat foto, tulisan atau semacamnya.

Sensei, I miss You..

Suatu hari, aku pernah mengagumi seseorang. Kalau boleh jujur, mungkin rasa itu sampai sekarang mungkin masih ada. Entahlah.
Meskipun terkadang aku merasa kalau rasa itu mungkin bukan hanya sekedar kagum. Tapi memang seperti suka ataupun cinta. Entahlah.
Sudah 3 tahun aku seharusnya melupakan rasa itu. Sudah selama itu aku memendam rasa ini sendirian. Aneh rasanya. Entahlah.

Kalau boleh jujur siapa orang ini. Dia adalah salah satu guruku di SMA. Bukan guru yang sudah
berumur seperti orang tuaku. Tapi ia lebih muda. Ia memang sudah lulus kuliah dan bekerja beberapa tahun setelahnya. Tapi ia masih terlihat masih sangat muda. Mungkin. Seingatku.
Untuk pertama kalinya aku menyukai seorang guru disekolah. Ya untuk pertama kalinya rasanya sesulit ini. Untuk pertama kalinya juga aku berusaha sangat keras untuk mengetahui tentangnya lebih jauh.


Meski tahu namanya, tahu almamater kuliahnya,  masih mencatat plat motor yang biasa ia gunakan ke sekolah waktu itu. Sayangnya, aku lupa wajahnya. Aku mungkin pernah punya beberapa foto yang aku ambil diam-diam saat itu. Tapi aku lupa dimana menaruhnya. Mungkin bahkan sudah hilang entah kemana. Entahlah.

Sampai rasa rindu ini muncul, aku mengingatnya. Hanya mengingat sosoknya. Hanya mengingat apa yang aku lakukan bersama dengannya. Hanya mengingat jenis pakaian yang setiap hari ia pakai. Sungguh aku tak ingat bunyi suaranya. Aku tak ingat bagaimana model frame kacamatanya. Aku tak ingat. Tapi aku masih ingat rasanya. Entahlah.
Aku hanya merindukannya.
Aku ingin bertemu dengannya sekali lagi. Hanya sekali saja.
Setelah itu aku ingin melepas semua tentang dirinya yang masih terikat denganku. Sampai sekarang.
Entahlah.

Rasanya seperti itu.