Anggap saja ceritaku ini sungguh fiksi. Percayalah sampai akhir cerita panjang ini hanyalan bualan. Namun bila sampai kau temukan kebenarannya, kau akan percaya pada sesuatu yang berharga daripada pengalaman.
Jujur saja sudah tak ada lagi motivasi pada diriku ini untuk meneruskan hidupku. Apa sebenarnya kerinduanku pada hidup. Aku tak tahu. Tak ada yang lebih berharga dari nilai hidupku. Diri ini lagi-lagi tak percaya pada sesuatu yang tadinya ku anggap berharga. Ingin rasanya ku bunuh jiwaku sendiri. Tapi bagaimana caranya? Aku memiliki takdir yang tak ku ketahui jalannya.
Aku percaya dengan adanya Tuhan. Aku percaya aku hanyalah makhluk kecil yang diciptakan bersamaan dengan adanya harapan. Namun dibalik itu, harapan bukanlah apa-apa tanpa adanya kepercayaan pada kehidupan. Kembali lagi, aku sungguh percaya Tuhan Maha Adil dan Tuhan adalah sempurna. Tuhan itu baik pada umatnya. Hanya saja 'aku' lah masalahnya. Aku tak bisa percaya pada kehidupanku. Hidup inilah yang tidak adil. Untuk apa aku hidup? Bila ujungnya akan kembali pada Tuhan. Kembalikanlah aku sekarang. Semakin aku mencari jalan pada kehidupanku disini, semakin aku terjebak. Namun tak cukup juga bekal yang kupersiapkan. Rasanya aku sudah tak peduli pada apapun. Batinku hancur oeh kesengsaraan, juga oleh kebahagiaan. Tak bisa lagi hatiku ini merasa begitu bahagia, karena tak bisa juga kurasakan kesengsaraan. Aku butuhkan keduanya, tetapi aku sudah muak. Hidup ini selalu berputar pada ketidaksempurnaan. Memang itulah takdir manusia, pikirku.
Apa yang membuatku sedemikian rupa tidak menyukai hidupku?
Pertama, kehidupan itu sendiri. Kedua, manusia yang sedang menjalani 'hidup'nya bersamaan dengan ruang dan waktu yang sama dengan ruang dan waktu yang kujalani ini. Ketiga, diriku sendiri.
Kuakui, keluargaku begitu sempurna. Pada detik ini, aku masih punya Ayah dan Ibu juga satu adik perempuan. Mereka belum meninggalkanku. Mereka jelas 'ada', tentu untuk kehidupan ini. Mereka berada pada status dan perannya masing-masing. Meskipun aku tidak pernah jujur pada mereka, aku mencintai mereka lebih dari hidupku. Tidak jarang tumpah tangisku bila mengetahui hal buruk terjadi pada mereka. Aku juga jelas bahagia bila sesuatu hal baik menimpa keluargaku. Namun entah sejak kapan, aku mulai muak dengan kehidupan penuh kebahagiaan semu ini. Ayahku mulai tidak percaya pada perkembangan di hidupku, ibuku tetap pada pendiriannya untuk percaya pada pekerjaannya sebagai istri dari ayahku, juga adikku yang masih sibuk berkutat dengan hidupnya sendiri untuk mencari dan mencapai makna kehidupan.
Berat memang rasanya begitu tahu Ayahku selalu menyalahkan orang-orang yang mendukungnya, begitu juga ibuku yang terlihat hanya menyayangi adikku. Terlebih berat lagi rasanya saat tahu bahwa adikku terlalu egois untuk selalu memikirkan dirinya sendiri dibandingkan mencari kehidupan bersama teman sepermainannya. Entahlah, aku mungkin salah dalam menilai. Tapi itulah yang aku rasakan. Seperti tak ada nilainya, hidupku ada atau tiada dalam hidup mereka, aku kadang merasa tidak berguna. Kupikir lebih baik aku tidak ada daripada memberatkan mereka, pikirku.
Munurutku, hidup ada karena 'cinta'. Sebagian besar wanita di dunia ini pasti juga berpikir demikian. Engkau akan dapatkan makna kehidupan sebagai manusia setelah kau mengerti arti cinta yang tulus. Entah cinta kasih sayang pada keluarga, cinta kebahagiaan pada teman dan sahabat, ataupun hasrat cinta pada kekasih. Engkau bukanlah lagi berjiwa manusia bila tak punya hati. Jiwamu telah lumpuh oleh kegelapan hati manusia bila itu terjadi, kejahatan dan masa kekelaman bisa merajalela bila umat manusia tak punya hati.
Aku? Tentu saja aku punya sahabat. Aku juga punya kekasih hati yang kini sangat kupuja-puja. Ehem maaf ralat, aku tidak memuja kekasihku, aku hanya menyayanginya dan mencintainya sepenuh hatiku dengan tulus ikhlas.
Terdapat dua kesalahan pada kasih sayangku untuk sahabat baikku. Yang pertama, aku memiliki sahabat paling terbaik yang kumiliki sejak SMA. Tiga tahun di SMA, tiga tahun pula aku bersamanya. Indah sekali masa-masa itu sampai akhirnya kami terpisahkan jarak. Aku masih menyayanginya, aku pun masih berkomunikasi baik dengannya. Namun rasanya kurang, tak jarang aku melupakannya karena aku miliki sahabat lain ditempatku yang sekarang ini. Kesalahan yang kedua terletak pada sahabat-sahabat yang kumiliki sekarang. Mereka hidup berdampingan denganku karena memiliki tujuan yang sama. Melalui dan melewati ruang dan waktu yang sama. Berjalan sendiri-sendiri tetapi secara bersamaan. Klise sekali hidup bersama mereka, penuh kasih sayang, penuh drama, canda tawa juga isak tangis. Perasaanku mengatakan, bila tujuan kita selamanya hilang, selamanya pula kita mulai menjauh. Tergantung dengan ruang dan waktu, mungkinkah mereka yang berjalan 'sendiri-sendiri' tadi mampu untuk hidup bergotong-royong bersama-sama? Bukan untuk dirinya sendiri tetapi untuk kita bersama. Kurasa sedikit agak sulit.
Begitu juga kekasihku saat ini. Kurasa dia-lah cobaan dalam hidupku yang amat terasa sangat berat. Ceritanya agak panjang. Akan aku sambung lain waktu.
Cerita fiksi ini bersambung esok hari... terima kasih bagi yang telah meluangkan waktunya untuk membaca sedikit cerita monolog ini.
9 June 2017 6.57 AM [Latepost]
Tidak ada komentar:
Posting Komentar