Senin, 29 Oktober 2018

Turning Point.


Lanjutan cerita fiksi sepenggal kehidupan. Kali ini anggap saja ceritanya masih karangan fiksi. Sebelumnya telah kuceritakan bagaimana hidupku tak berarti dan tak ada harganya meskipun hidupku sempurna. Namun semua kesempurnaan itu terasa semu. Mungkin hal tersebut adalah petunjuk agar aku bisa kembali pada Yang Maha Kuasa. Agar aku hanya memikirkan Tuhan dan mencari jalan menuju sisiNya. Namun sepertinya takdirku itu masih jauh sekali. Masih satu milyar langkah lagi untuk menuju keabadian yang hakiki. Mungkin. Tak ada yang tahu selain Tuhan.

Tahun ini, sudah 6 bulan lebih berlalu hatiku lumpuh karena sakit. Di sisi lain, hatiku sedang dirawat selama 6 bulan tersebut. Turning point namanya, aku sedang ingin kembali ke wujudku semula. Ceria, tak kenal lelah


Sepertinya berhenti mengucap rindu adalah salah.

9 June 2017 8.45 PM [Latepost]

Tidak ada komentar:

Posting Komentar